Pages

Wednesday, August 10, 2016

The Nightingale


Judul Buku : The Nightingale
Penulis : Kristin Hannah
Penerbit : Pan McMillan
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 438


Perang dunia kedua pecah di Eropa. Perancis bergabung bersama Inggris melawan Jerman. Penduduk berbondong-bondong meninggalkan Paris. Isabelle Rosignol dipaksa mengungsi oleh ayahnya. Kakak perempuannya, Vianne dan keluarganya tinggal di Carriveau, daerah pedesaan di Perancis Selatan. Dalam perjalanan pengungsian Isabelle bertemu dengan laki-laki muda bernama Gaetan. Isabelle menyatakan dirinya siap membantu Perancis di medan perang. Gaetan meninggalkan Isabelle tanpa pamit. Pertemuan singkat tersebut meninggalkan kesan bagi keduanya. 

Perang memanggil Antoine, suami, Vianne ke garis depan. Carriveau ditinggali oleh wanita, anak-anak dan orang tua. Perancis diinvasi oleh Jerman. Wilayah Perancis dibagi menjadi tiga bagian yaitu, wilayah Perancis, zona bebas, dan wilayah pendudukan tentara Nazi. Carriveau berada di wilayah pendudukan Jerman. Tentara Jerman mendirikan kantor administrasi dan mulai menyebarkan propaganda Hitler. Rumah-rumah yang besar terpaksa menampung tentara-tentara Nazi. Kapten tentara Wehrmacht Beck meminta ijin tinggal di rumah Vianne. Isabelle langsung tidak setuju. Namun Vianne tidak mempunyai pilihan demi keselamatan Sophie. Isabelle tetap menjaga jarak dan waspada dengan keramahan Beck.

Dampak pendudukan tentara Nazi mulai terasa di Carriveau. Stok bahan makanan diutamakan untuk menyuplai kebutuhan tentara. Setiap hari semakin sulit mendapatkan bahan makanan sementara stok makanan di kantor Nazi melimpah ruah. Isabelle bergabung dengan gerakan bawah tanah. Tentara Nazi tidak mencurigai gadis remaja yang sering mereka goda di jalan adalah pembawa pesan yang mereka cari-cari. Isabelle paham risiko yang dihadapi jika ia tertangkap, kamp konsentrasi atau hukuman mati. Isabelle kembali ke Paris dengan misi lebih besar. Ia mendapat identitas baru, Juliette Gervaise dengan nama sandi The Nightingale. 

Isabelle mengemban tugas yang lebih berat yaitu menyelamatkan pilot RAF ke daerah Spanyol. Ancaman mati bagi siapa pun yang membantu atau menyembunyikan musuh. Keberanian Isabelle diapresiasi konsulat Inggris. Selain harus menghindari patroli tentara nazi, Isabel harus waspada dengan kolaborator; orang Perancis yang menjadi mata-mata nazi. Mereka menyeberangi perbatasan Perancis – Spanyol melalui pegunungan Pyreness. Keberhasilan misi pertama mengikuti penyelamatan-penyelamatan pilot musuh yang jatuh di daerah Perancis. 

Musim dingin memperburuk keadaan Vianne dan Sophie di Carriveau. Kartu ransum sudah tidak berarti lagi. Tidak ada bahan makanan, wol, dan kayu bakar. Jerman menjadi lebih represif setelah Amerika menyatakan keikutsertaannya dalam perang. Polisi Perancis mulai mengumpulkan orang yahudi untuk dideportasi ke Jerman. Sahabat Vianne, Rachel adalah orang yahudi kelahiran Polandia yang sudah tinggal belasan tahun dan menikah dengan orang Perancis. Perpisahan ibu dan anak sungguh memilukan ketika tentara nazi menangkap mereka. Rachel menitipkan anak laki-lakinya yang masih balita ke Vianne. Pada akhirnya semua orang yahudi, tua dan muda, kelahiran luar perancis atau bukan dideportasi ke Jerman.

Situasi Perancis semakin genting. Seluruh daerah Perancis diduduki Jerman. Tidak ada lagi zona netral. Pasukan SS yang memakai swastika mulai banyak terlihat di Carriveau. Beck mati tertembak oleh Isabelle tetapi Vianne turut merasa bersalah. Isabel pun menderita luka tembak dan dibawa ke rumah persembunyian oleh Gaetan. Kekosongan pemimpin militer diambil alih komandan Pasukan SS, Von Richter. Ia terkenal kejam dan berbahaya. Von Richter menyukai Vianne dan langsung menggantikan kehadiran Beck di rumah Vianne. Vianne menyembunyikan anak-anak yahudi yang terpisah dari orang tuanya, membuat identitas palsu dan menyerahkan mereka pada suster Agatha. Von Richter memanfaatkan kelemahan Vianne yang takut berpisah dengan anaknya. 

Perang memisahkan keluarga Rosignol sekaligus mempersatukan mereka. Vianne dan Isabelle mempunyai masa kecil yang kurang kasih sayang. Ibunya meninggal dunia dan Ayahnya tidak peduli dengan mereka. Perang telah mengubah ayah mereka menjadi seseorang yang berbeda. Vianne yang beranjak remaja tidak mencurahkan perhatian untuk Isabelle. Isabelle merasa tidak dicintai oleh ayah dan kakaknya. Keterlibatan Isabelle dengan gerakan bawah tanah menguak sikap dingin ayahnya. Ayah Isabelle bekerja untuk nazi sekaligus merancang strategi gerakan bawah tanah. 

Sepak terjang Nightingale meresahkan tentara nazi. Isabelle diminta untuk berhati-hati karena tentara nazi mengincar nyawanya. Tentara nazi melakukan penyergapan. Mereka menginterogasi Isabelle. Di bawah siksaan Isabelle mengaku sebagai Nightingale tetapi tidak didengarkan nazi. Mereka percaya Nightingale adalah seorang laki-laki.

Men tell stories. Women get on with it. For us it was a shadow war. There were no parades for us when it was over, no medals or mentions in history books. We did what we had to during the war, and when it was over, we picked up the pieces and started our lives over.

Perang menempatkan wanita sebagai pihak yang lemah. Kontribusi wanita di dalam perang seringkali tidak mendapat tempat dalam sejarah. Tema utama dari The Nightingale adalah peran wanita Perancis dalam perang dunia kedua. Wanita dapat melakukan misi sulit sama baiknya dengan laki-laki seperti yang dilakukan Isabel Rosignol. Wanita bisa melalui perang dengan ketabahan seperti Vianne. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang lain yang tidak mereka kenal. 

Pengalaman pertama membaca tulisan Kristin Hannah. Saya tertarik membaca The Nightingale karena Best Historical Fiction dalam Goodreads Choice Award 2015. Sekilas dari judulnya, saya langsung teringat dengan Florence Nightingale. The Nightingale termasuk buku yang membuat terjaga hingga dini hari. Gabungan drama, aksi dan kisah cinta yang bikin penasaran sampai halaman terakhir.  


No comments:

Post a Comment

Thank your for leaving comment. :)